728x90 AdSpace

  • Info Terbaru

    Sunday, 23 February 2014

    Urgennya Program Keluarga Berencana


    Dua Anak Cukup, inilah salah satu bait ungkapan yang disampaikan ketika ada iklan tentang Keluarga Berencana (KB), bahkan di setiap poster dan pamflet yang tertempel di kaca-kaca Puskesmas, Posyandu bahkan perumahan dokter pun kadang kala tulisan ini juga berjajar seperti hiasan yang sarat edukasi dan pendidikan kesehatan tentang reproduksi. Selain memang dicanangkan pemerintah melalui BKKBN tentu saja harapannya mempunyai andil besar terhadap peningkatan kesejahteran keluarga.
    Secara klinis memang apa yang disampaikan dalam iklan dan propaganda KB memang harapannya agar masyarakat Indonesia menjadi bahagia dan sejahtera, sebagaimana simbolnya Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera, yang tentu saja mensiratkan bahwa dengan keluarga kecil dalam tanda kutip 4 anggota keluarga, diharapkan keluarga tersebut benar-benar bahagia dan sejahtera. Alasannya dengan sedikit keluarga diharapkan akan semakin sedikit kebutuhan dan beban hidup sehingga pendidikan dan kecukupan kebutuhan hidup termasuk pendidikannya dapat terpenuhi, sehingga memungkinkan keluarga kecil tersebut dapat meraih kehidupan yang lebih baik dari pada keluarga yang jumlah anggota keluarganya lebih banyak.
    Memang, apa yang disampaikan dalam iklan dan program pemerintah sangat benar adanya di mana ketika keluarga itu kecil dapat dipastikan keluarga itu akan bahagia dan hidupnya berkecukupan bahkan dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
    Tapi, ketika kita menengok ke belakang, betapa masih banyak keluarga kecil dengan dua anak bahkan tanpa memiliki anak yang hidupnya pas-pasan bahkan dapat dibilang memprihatinkan. Hal ini disebabkan karena sumber pendapatan hidup mereka yang tidak tersedia. Sehingga, secara otomatis akan sulit menggapai mimpi keluarga bahagia dan sejahtera apabila kondisi ekonomi masih tidak jelas alias amburadul.
    Akan tetapi, ada juga keluarga itu memiliki lebih dari dua anak yang ternyata sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga berhasil bahkan menjadi pejabat negara yang tentu saja berbanding terbalik dengan kondisi keluarga yang disebutkan di atas. Meski keluarga mereka kecil ternyata tidak juga mencapai derajat sejahtera minimal berkecukupan dan tidak membebani orang lain.
    Jika melihat fenomena KB yang dicanangkan pemerintah sebenarnya mempunyai tujuan yang positif akan tetapi akan sangat sia-sia jika dari sisi lain justru sebaliknya kurang mendapatkan perhatian yang intens dan concern. Terbukti meskipun keluarga tersebut sudah aktif ber-KB faktanya masih saja kesulitan ekonomi, anak-anak mereka putus sekolah, kebutuhan primer pun sangat memprihatinkan, apalagi ditambah dengan kebutuhan sekunder, tentu hanya menjadi buah bibir dan tak pernah mereka nikmati.
    Lalu apa urgensi penduduk negeri ini ber-KB terhadap kesejahteraan? Secara sepintas lalu memang kita tidak dapat dapat menolak konsep manfaat ber-KB tapi setelah kita amati dan kita pertimbangkan secara kasat mata yang ada di sekitar ternyata urgensinya masih sangat dipertanyakan. Kenapa demikian? karena faktor utama kesejahteraan dan kecukupan ekonomi bukan karena memutuskan keturunan “maaf” memandulkan pria atau wanita dengan alasan menjarangkan kelahiran atau melarang seorang ibu memiliki anak lebih dari dua, sedangkan ada sisi lain yang sebenarnya musti diperhatikan dengan kosisten yaitu ketersediaan sumber ekonomi yang ada di sekitarnya. Karena dari sinilah sebenarnya awal mula kesejahteraan itu dapat diperoleh, meskipun memang dengan keluarga kecil kebutuhan hidup semakin ringan, akan tetapi akan mustahil pula kehidupan mereka sejahtera jika lapangan pekerjaan dan kemampuan bekerja mereka nihil, bukan?
    Selain tidak konsistennya dalam menyelenggaran program KB ternyata bangsa Indonesia masih saja menerima pendatang (urban) dari negara lain misalnya banyak sekali kaum urban dari China, India, Myanmar, dan dari berbagai negara yang tentu saja akan bertentangan dengan konsep mengurangi jumlah penduduk.
    Meskipun imigrasi maupun emigrasi adalah hal yang disahkan menurut undang-undang internasional tapi dengan membatasi pertumbuhan penduduk dari negeri sendiri dengan alasan KB sungguh sangat keluar dari logika yang masuk akal. dan anehnya justru kaum urban yang kini menetap di Indonesia ini jarang sekali yang mengikuti program KB, konsekuensinya jumlah anak-anak mereka justru membengkak tapi mereka masih sejahtera karena mampu memenuhi kebutuhan hidup dan mereka mendapatkan lapangan pekerjaan yang mencukupi kebutuhan hidup mereka. Bahkan justru kehidupan mereka lebih mapan dan lebih mewah dibandingkan penduduk kelahiran Indonesia yang hanya menjadi pengemis padahal mereka hanya memiliki satu anak.
    Indikator-indikator inilah sebenarnya yang menguatkan pendapat saya bahwa sebenarnya letak kesejahteraan bukan karena sedikit anak, akan tetapi ketersediaan lapangan pekerjaan dan pemenuhan hak hidup warga yang seharusnya dipenuhi oleh negara sebagaimana termaktub dalam UUD 1945.
    Selain tidak urgennya KB dengan tingkat ekonomi keluarga, selain ketersediaan ekonomi adalah pendidikan kewirausahaan yang tujuannya memberikan masyarakat kemampuan menciptakan peluang usaha dibandingkan menyediakan fasilitas pendidikan yang hanya menciptakan para calon pegawai negeri yang cenderung kurang kreatif menciptakan peluang usaha tapi justru berbondong-bondong berharap menjadi pegawai negeri yang tentu saja kuotanya terbatas. Konsekuensinya jika para pencari kerja ini tidak dapat terserap dalam lapangan pekerjaan, maka yang timbul adalah pengangguran-pengangguran terselubung yang sebenarnya mereka akan menjadi benih kejahatan, kerawanan sosial, termasuk di dalamnya semakin banyaknya para pengemis dan pengamen anak-anak di jalanan disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga mereka.
    Selain KB kurang begitu berkorelasi terhadap ekonomi keluarga, dalam Islam sebagaimana apa yang saya pahami dalam hadits Nabi yaitu agar umatnya memperbanyak keturunan karena dengan keturunan itu jadilah generasi yang banyak dan kuat.
    Konklusinya tidak salah program KB nya tapi memaksakan orang untuk mandul dengan alasan ekonomi sebenarnya juga tidak dibenarkan, karena banyak pula orang yang anggotanya tidak sedikit tapi kondisi ekonomi terpenuhi dan ada pula keluarga itu termasuk keluarga kecil tapi kehidupan ekonominya tidak sejahtera.
    Hanya dengan ketersediaan lapangan pekerjaan dan fasilitas pendidikan serta kesehatan gratislah yang menjadikan masyarakat Indonesia sejahtera.

    Sumber: kompas.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Urgennya Program Keluarga Berencana Rating: 5 Reviewed By: Catatan Habriah

    Galeri Aktivitas Saya 2013 - 2015