728x90 AdSpace

  • Info Terbaru

    Wednesday, 17 June 2015

    Angka Kematian Bayi dan Ibu Hamil di Kabupaten Malang Masih Tinggi



    CATATAN HABRIAH, Malang - Angka kematian bayi dan ibu hamil di Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih tergolong tinggi. Itu terlihat dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang selama periode 2012 hingga Juni 2015.


    Pada 2012, sebanyak 196 bayi dan 25 ibu hamil meninggal. Jumlah ini bertambah pada 2013, yakni 130-an bayi dan 25 ibu hamil. Kemudian pada 2014 tercatat 162 bayi dan 27 ibu meninggal dunia. Adapun selama semester pertama 2015, yakni Januari sampai Juni, 81 bayi dan 17 ibu hamil meninggal dunia.



    Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Abdurrachman menjelaskan, kasus kematian bayi dan ibu hamil terbanyak terjadi di daerah selatan yang terpelosok, terutama di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Tirtoyudo.



    Dinas Kesehatan, kata Abdurrachman, sudah berusaha keras menekan angka kematian bayi dan ibu hamil serendah-rendahnya, bahkan kalau bisa ke angka nol. “Angka kematian bayi dan ibu hamil mencemaskan,” katanya, Selasa, 16 Juni 2015.



    Menurut Abdurrachman, berat badan lahir rendah masih menjadi penyebab utama kematian bayi. Dari seluruh kasus kematian bayi, 60 persen di antaranya dialami bayi yang memiliki berat badan saat lahir di bawah 2.500 gram.



    Adapun mayoritas penyebab rendahnya berat badan bayi saat lahir yakni faktor ibu yang hamil pada usia yang terlalu belia. “Banyak ditemukan ibu hamil yang usianya masih 17 tahun, bahkan di bawahnya,” ujar Abdurrachman.



    Kasus pernikahan dini di Kabupaten Malang meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data pengadilan agama setempat, sejak Januari sampai sekarang terdapat 196 pasangan belia yang menikah.



    Abdurrachman melanjutkan, 30 persen kematian bayi disebabkan oleh eklamsi, yakni kondisi medis yang ditandai dengan kejang pada wanita hamil. Eklamsi merupakan salah satu bentuk komplikasi yang cukup serius yang dapat terjadi dalam kehamilan. Kondisi ini biasanya terjadi pada kehamilan anak pertama dengan usia kehamilan 20-40 minggu.



    Sedangkan penyebab utama kematian ibu hamil yakni perdarahan. Secara kultural, kata Abdurrachman, ada kebiasaan warga yang keliru, yakni memijat perut ibu hamil ketika usia kandungan tiga bulan. Pijatan bertujuan membetulkan posisi bayi, tapi tanpa disadari sebenarnya amat berisiko menimbulkan perdarahan.



    Dinas Kesehatan Kabupaten Malang akan meluncurkan program SMS Bunda pada Agustus mendatang guna mencegah dan menekan angka kematian bayi dan ibu hamil. Lewat layanan pesan pendek, ibu hamil diingatkan kapan waktunya melakukan kontrol.



    Selain itu, Dinas Kesehatan terus menjalin kemitraan dengan bidan desa dan dukun bayi. “Mereka dilatih agar makin terampil dalam penanganan medis terhadap kehamilan dan kelahiran bayi,” ucap Abdurrachman.



    Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Malang Machmud Zubaidi mendukung pembatasan usia minimal perempuan menikah dari 16 menjadi 18 tahun, seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Salah satu tujuan pembatasan usia pernikahan bagi kaum perempuan yaitu mengurangi angka kematian bayi dan ibu.



    Berdasarkan data Pengadilan Agama Kabupaten Malang, 60-70 persen pasangan usia subur (PUS) yang dinikahkan belum cukup umur. Machmud menyarankan PUS menikah saat berusia 19 atau 20 tahun. “PUS ideal berusia 20-35 tahun karena secara fisik sudah sempurna, khususnya organ reproduksi perempuan. Secara psikologis dan sosiologis, pasangan yang menikah juga sudah matang.” (TEMPO.CO)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Angka Kematian Bayi dan Ibu Hamil di Kabupaten Malang Masih Tinggi Rating: 5 Reviewed By: Catatan Habriah

    Galeri Aktivitas Saya 2013 - 2015