728x90 AdSpace

  • Info Terbaru

    Sunday, 23 March 2014

    Konsep Pemikiran Tentang Kesehatan Reproduksi Wanita


    Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka wanita sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh sebab itu wanita, seyogyanya diberi perhatian sebab :.
    1. Wanita menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya
    2. Kesehatan wanita secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.
    3. Kesehatan wanita sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatas namakan “pembangunan” seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.
    4. Masalah kesehatan reproduksi wanita sudah menjadi agenda Intemasional diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo).
    5. Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.
    Definisi Kesehatan Reproduksi Wanita.
    Berdasarkan Konferensi Wanita sedunia ke IV di Beijing pada tahun 1995 dan Koperensi Kependudukan dan Pembangunan di Cairo tahun 1994 sudah disepakati perihal hak-hak reproduksi tersebut. Dalam hal ini (Cholil,1996) menyimpulkan bahwa terkandung empat hal pokok dalam reproduksi wanita yaitu :
    1. Kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health)
    2. Penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making)
    3. Kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women)
    4. Keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security)
    Adapun definisi tentang arti kesehatan reproduksi yang telah diterima secara internasional yaitu : sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistim, fungsi-fungsi dan proses reproduksi. Selain itu juga disinggung hak produksi yang didasarkan pada pengakuan hak asasi manusia bagi setiap pasangan atau individu untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarakan anak, dan menentukan kelahiran anak mereka.
    Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi
    Dalam wawasan pengembangan kemanusiaan. Merumuskan pelayanan kesehatan reproduksi yang sangat penting mengingat dampaknya juga terasa pada kualitas hidup generasi berikutnya. Sejauh mana seseorang dapat menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara aman dan sehat sesungguhnya tercermin dari kondisi. kesehatan selama siklus kehidupannya, mulai dari saat konsepsi, masa anak, remaja, dewasa, hingga masa pasca usia reproduksi. Menurut program kerja WHO ke IX (1996-2001), masalah kesehatan reproduksi ditinjau dari pendekatan siklus kehidupan keluarga, meliputi :
    1. Praktek tradisional yang berakibat buruk semasa anak-anak (seperti mutilasi,genital, deskri minasi nilai anak, dsb);
    2. Masalah kesehatan reproduksi remaja (kemungkinan besar dimulai sejak masa kanak-kanak yang seringkali muncul dalam bentuk kehamilan remaja,kekerasan/pelecehan seksual dan tindakan seksual yang tidak aman);
    3. Tidak terpenuhinya kebutuhan ber-KB, biasanya terkait dengan isu aborsi tidak aman;
    4. Mortalitas dan morbiditas ibu dan anak (sebagai kesatuan) selama kehamilan,persalian dan masa nifas, yang diikuti dengan malnutrisi, anemia, berat bayi lahir rendah;
    5. Infeksi saluran reproduksi, yang berkaitan dengan penyakit menular seksual;
    6. Kemandulan, yang berkaitan erat dengan infeksi saluran reproduksi dan penyakit menular seksual;
    7. Sindrom pre dan post menopause dan peningkatan resiko kanker organ reproduksi;
    8. Kekurangan hormon yang menyebabkan osteoporosis dan masalah ketuaan lainnya.
    Masalah kesehatan reproduksi mencakup area yang jauh lebih luas, dimana masalah tersebut dapat kita kelompokkan sebagai berikut:

    Masalah reproduksi
    1. Kesehatan, morbiditas (gangguan kesehatan) dan kematian perempuan yang berkaitan dengan kehamilan. Termasuk didalamnya juga maslah gizi dan anemia dikalangan perempuan, penyebab serta komplikasi dari kehamilan, masalah kemandulan dan ketidaksuburan;
    2. Peranan atau kendali sosial budaya terhadap masalah reproduksi. Maksudnya bagaimana pandan gan masyarakat terhadap kesuburan dan kemandulan, nilai anak dan keluarga, sikap masyarakat terhadap perempuan hamil;
    3. Intervensi pemerintah dan negara terhadap masalah reproduksi. Misalnya program KB, undang-undang yang berkaitan dengan masalah genetik, dan lain sebagainya;
    4. Tersediannya pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, serta terjangkaunya secara ekonomi oleh kelompok perempuan dan anak-anak;
    5. Kesehatan bayi dan anak-anak terutama bayi dibawah umur lima tahun;
    6. Dampak pembangunan ekonomi, industrialisasi dan perubahan lingkungan terhadap kesehatan reproduksi.

    Masalah gender dan seksualitas
    1. Pengaturan negara terhadap masalah seksualitas.
    2. Seksualitas dikalangan remaja;
    3. Status dan peran perempuan;
    4. Perlindungan terhadap perempuan pekerja.
    Masalah kekerasan dan perkosaan terhadap perempuan
    1. Kencenderungan penggunaan kekerasan secara sengaja kepada perempuan, perkosaan, serta dampaknya terhadap korban;
    2. Norma sosial mengenai kekerasan dalam rumah tangga, serta mengenai berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan;
    3. Sikap masyarakat mengenai kekerasan perkosaan terhadap pelacur;
    4. Berbagai langkah untuk mengatasi masalah- masalah tersebut.
    Masalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual
    1. Masalah penyakit menular seksual yang lama, seperti sifilis, dan gonorhea;
    2. Masalah penyakit menular seksual yang relatif baru seperti chlamydia, dan herpes;
    3. Masalah HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acguired immunodeficiency Syndrome);
    4. Dampak sosial dan ekonomi dari penyakit menular seksual;
    5. Kebijakan dan progarm pemerintah dalam mengatasi maslah tersebut (termasuk penyediaan pelayanan kesehatan bagi pelacur/pekerja seks komersial);
    6. Sikap masyarakat terhadap penyakit menular seksual.
    Masalah pelacuran
    1. Demografi pekerja seksual komersial atau pelacuran;
    2. Faktor-faktor yang mendorong pelacuran dan sikap masyarakat terhadapnnya;
    3. Dampaknya terhadap kesehatan reproduksi, baik bagi pelacur itu sendiri maupun bagi konsumennya dan keluarganya
    Masalah sekitar teknologi
    1. Teknologi reproduksi dengan bantuan (inseminasi buatan dan bayi tabung);
    2. Pemilihan bayi berdasarkan jenis kelamin (gender fetal screening);
    3. Pelapisan genetik (genetic screening);
    4. Keterjangkauan dan kesamaan kesempatan;
    5. Etika dan hukum yang berkaitan dengan masalah teknologi reproduksi ini.

    Tujuan dan Sasaran Kesehatan Reproduksi
    Tujuan Utama
    Sehubungan dengan fakta bahwa fungsi dan proses reproduksi harus didahului oleh hubungan seksual, tujuan utama program kesehatan reproduksi adalah meningkatkan ksesadaran kemandiriaan wanita dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya, termasuk kehidupan seksualitasnya, sehingga hak-hak reproduksinya dapat terpenuhi, yang pada akhirnya menuju penimgkatan kualitas hidupnya.
    Tujuan Khusus
    Dari tujuan umum tersebut dapat dijabarkan empat tujuan khusus yaitu :
    1. Meningkatnya kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi reproduksinya;
    2. Meningkatnya hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan;
    3. Meningkatnya peran dan tanggung jawab sosial pria terhadap akibat dari perilaku seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan kesejahteraan pasangan dan anak-anaknya;
    4. Dukungan yang menunjang wanita untuk menbuat keputusan yang berkaitan dengan proses reproduksi, berupa pengadaan informasi dan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan untuk mencapai kesehatan reproduksi secara optimal.
    Tujuan diatas ditunjang oleh undang-undang No. 23/1992, bab II pasal 3 yang menyatakan: “Penyelenggaraan upaya kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat”, dalam bab III pasal 4 “Setiap orang menpunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

    Sasaran
    Indonesia menyetujui ke -tujuh sasaran reproduksi WHO untuk masa 1993- 2001, karena masih dalam jangkauan sasaran Repelita VI, yaitu:
    1. Penurunan 33% angka prevalensi anemia pada wanita (usia 15-49 tahun)
    2. Penurunan angka kematian ibu hingga 59%;semua wanita hamil mendapatkan akses pelayanan prenatal, persalinan oleh tenaga terlatih dan kasus kehamilan resiko tinggi serta kegawatdaruratan kebidanan, dirujuk kekapasilitas kesehatan
    3. peningkatan jumlah wanita yang bebas dari kecacatan/gangguan sepanjang hidupnya sebesar 15% diseluruh lapisan masyarakat;
    4. Penurunan proporsi bayi berat lahir rendah (<2,5kg) menjadi kurang dari 10 %;
    5. Pemberantasan tetanus neonatarum (angka insiden diharapkan kurang dari satu kasus per 1000 kelahiran hidup) disemua kabupaten; Semua individu dan pasangan mendapatkan akses informasi dan pelayanan pencegahan kehamilan yang terlalu dini, terlalu dekat jaraknya, terlalu tua, dan telalu banyak;
    6. Proporsi yang memanfaatkan pelayanan kesehatan dan pemeriksaan dan pengobatan PMS minimal mencapai 70% (WHO/SEARO,1995) Sesuai dengan undang-undng Nomor 23/1992 dan undang-undang Nomor 10/1992, Strategi kesehatan reproduksi nasional diarahkan pada rencana intervensi untuk mengubah perilaku didalam setiap keluarga. Tujuannya adalah menjadikan keluarga sebagai utama dan pintumasuk upaya promosi pelayanan kesehatan reproduksi.

    Perilaku seseorang tidak akan berubah jika makna dan manfaat perubahan perilaku tersebut tidak dimengerti terlebih dahulu. Jadi, langkah pertama adalah meningkatkan kepedulian masyarakat dan menciptakan kepedulian masyarakat dan menciptakan peminatan keluarga akan materi pelayanan kesehatan reproduksi. Bahan-bahan KIE perlu dikembangkan sesuai kebutuhan untuk mendukung konsep kesehatan reproduksi. Sebaiknya digunakan bahasa agama, sosial-politik, dan juga bahasa remaja dalam memasyarakatkan arti kesehatan reproduksi, yang merupakan suatu konsep pendekatan baru. Karena itu diperlukan pendekatan multi-sektoral terpadu, dimana berbagai intervensi dilaksanakan sekaligus oleh berbagai sektor tetapi dengan tujuan umum yang sama sehingga dampaknya le bih nyata. Karena perubahan perilaku tidak hanya akan membutuhkan waktu, tetapi juga memerlukan alokasi sumber daya dan sumber dana yang besar.

    Diterimanya gagasan kesehatan reproduksi secara nasional diseluruh jajaran perencanaan program merupakan lagkah pertama keterpaduaan dalam menjawab tantangan pelaksanaan tahapan yang lebih komprehensif kelak. Persamaan persepsi ditingkat nasional akan menciptakan kondisi lingkungan yang memungkinkan opersionalisasi dari perencanaan ditingkat propinsi dan kabupaten. Gagasan dasarnya adlah “Perubahan tingkah laku reproduksi adalah tanggung jawab setiap orang”. Program pemerintah mempunyai keterbatasan sumber daya dalam memikul beban masalah reproduksi yang dihadapi seseorang sepanjang siklus kehidupannya. Kunci penyelesaian adalah saling berbagi tanggung jawab antara keluarga dan masyarakat. Jika program menginginkan keluarga dan masyarakat juga terlibat dan merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki perilaku reproduksinya, pelaksanaan pelayanan harus mampu memuaskan kebutuhan klien.
    D. Pelayanan Kesehatan Reproduksi
    Pelayanan kesehatan reproduksi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan perempuan dan laki-laki berhubungan dengan masalah seksualitas dan penjarangan kehamilan. Tujuan dari program-program yang terkait serta konfigurasi dari pelayanan tersebut harus menyeluruh, dan mengacu kepada program Keluarga Berencana (KB) yang konvensional serta pelayanan kesehatan ibu dan anak.
    Komponen yang termasuk di dalam kesehatan reproduksi adalah:
    1. Konseling tentang seksualitas, kehamilan, alat kontrasepsi, aborsi, infertilitas, infeksi dan penyakit;
    2. Pendidikan seksualitas dan jender;
    3. Pencegahan, skrining dan pengobatan infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS dan masalah kebidanan lainnya;
    4. Pemberian informasi yang benar sehingga secara sukarela memilih alat kontrasepsi yang ada;
    5. Pencegahan dan pengobatan infertilitas;
    6. Pelayanan aborsi yang aman;
    7. Pelayanan kehamilan, persalinan oleh tenaga kesehatan, pelayanan pasca kelahiran; dan
    8. Pelayanan kesehatan untuk bayi dan anak-anak.
    Kualitas pelayanan merupakan prioritas dan ini harus didukung dengan:
    1. Menerapkan metode yang kompeten dengan standar yang tinggi (maintaining high standards of technical competence);
    2. Melayani klien dengan rasa hormat dan bersahabat;
    3. Merancang pelayanan agar dapat memenuhi kebutuhan klien; dan
    4. Menyediakan pelayanan lanjutan.

    Indikator Permasalahan Kesehatan Reproduksi Wanita.

    Dalam pengertian kesehatan reproduksi secara lebih mendalam, bukan semata-mata sebagai pengertian klinis (kedokteran) saja tetapi juga mencakup pengertian sosial (masyarakat). Intinya goal kesehatan secara menyeluruh bahwa kualitas hidupnya sangat baik. Namun, kondisi sosial dan ekonomi terutama di negara-negara berkembang yang kualitas hidup dan kemiskinan memburuk, secara tidak langsung memperburuk pula kesehatan reproduksi wanita.
    Indikator-indikator permasalahan kesehatan reproduksi wanita di Indonesia antara lain:
    1. Jender, adalah peran masing-masing pria dan wanita berdasarkan jenis kelamin menurut budaya yang berbeda-beda. Jender sebagai suatu kontruksi sosial mempengaruhi tingkat kesehatan, dan karena peran jender berbeda dalam konteks cross cultural berarti tingkat kesehatan wanita juga berbeda-beda.
    2. Kemiskinan, antara lain mengakibatkan:
      • Makanan yang tidak cukup atau makanan yang kurang gizi
      • Persediaan air yang kurang, sanitasi yang jelek dan perumahan yang tidak layak.
      • Tidak mendapatkan pelayanan yang baik.
    3. Pendidikan yang rendah.
    Kemiskinan mempengaruhi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Kesempatan untuk sekolah tidak sama untuk semua tetapi tergantung dari kemampuan membiayai. Dalam situasi kesulitan biaya biasanya anak laki-laki lebih diutamakan karena laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Dalam hal ini bukan indikator kemiskinan saja yang berpengaruh tetapi juga jender berpengaruh pula terhadap pendidikan. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi tingkat kesehatan. Orang yang berpendidikan biasanya mempunyai pengertian yang lebih besar terhadap masalah-masalah kesehatan dan pencegahannya. Minimal dengan mempunyai pendidikan yang memadai seseorang dapat mencari liang, merawat diri sendiri, dan ikut serta dalam mengambil keputusan dalam keluarga dan masyarakat.
    1. Kawin muda
    Di negara berkembang termasuk Indonesia kawin muda pada wanita masih banyak terjadi (biasanya di bawah usia 18 tahun). Hal ini banyak kebudayaan yang menganggap kalau belum menikah di usia tertentu dianggap tidak laku. Ada juga karena faktor kemiskinan, orang tua cepat-cepat mengawinkan anaknya agar lepas tanggung jawabnya dan diserahkan anak wanita tersebut kepada suaminya. Ini berarti wanita muda hamil mempunyai resiko tinggi pada saat persalinan. Di samping itu resiko tingkat kematian dua kali lebih besar dari wanita yang menikah di usia 20 tahunan. Dampak lain, mereka putus sekolah, pada akhirnya akan bergantung kepada suami baik dalam ekonomi dan pengambilan keputusan.
    1. Kekurangan gizi dan Kesehatan yang buruk.
      Menurut WHO di negara berkembang terrnasuk Indonesia diperkirakan 450 juta wanita tumbuh tidak sempurna karena kurang gizi pada masa kanak-kanak, akibat kemiskinan. Jika pun berkecukupan, budaya menentukan bahwa suami dan anak laki-laki mendapat porsi yang banyak dan terbaik dan terakhir sang ibu memakan sisa yang ada. Wanita sejak ia mengalami menstruasi akan membutuhkan gizi yang lebih banyak dari pria untuk mengganti darah yang keluar. Zat yang sangat dibutuhkan adalah zat besi yaitu 3 kali lebih besar dari kebutuhan pria. Di samping itu wanita juga membutuhkan zat yodium lebih banyak dari pria, kekurangan zat ini akan menyebabkan gondok yang membahayakan perkembangan janin baik fisik maupun mental. Wanita juga sangat rawan terhadap beberapa penyakit, termasuk penyakit menular seksual, karena pekerjaan mereka atau tubuh mereka yang berbeda dengan pria. Salah satu situasi yang rawan adalah, pekerjaan wanita yang selalu berhubungan dengan air, misalnya mencuci, memasak, dan sebagainya. Seperti diketahui air adalah media yang cukup berbahaya dalam penularan bakteri penyakit.
      1. Beban Kerja yang berat.
      Wanita bekerja jauh lebih lama dari pada pria, berbagai penelitian yang telah dilakukan di seluruh dunia rata-rata wanita bekerja 3 jam lebih lama. Akibatnya wanita mempunyai sedikit waktu istirahat, lebih lanjut terjadinya kelelahan kronis, stress, dan sebagainya. Kesehatan wanita tidak hanya dipengaruhi oleh waktu..
      • Blogger Comments
      • Facebook Comments

      0 comments:

      Post a comment

      Item Reviewed: Konsep Pemikiran Tentang Kesehatan Reproduksi Wanita Rating: 5 Reviewed By: Unknown

      Galeri Aktivitas Saya 2013 - 2015